Bismillah Pictures, Images and Photos
Tampilkan postingan dengan label Galery Cerpenku:). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Galery Cerpenku:). Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 September 2011

Rumah Berdinding Mimpi


Namaku Vee, seorang remaja beruntung karena terlahir dengan segala bentuk rasa syukur. Lebih beruntung lagi aku memiliki Zaira, adikku satu-satunya yang tumbuh bak berlian seribu karat.
Kami sama !
Sama-sama pengkayal ulung. Pemimpi hebat. Perbedaannya hanya aku suka berselingkuh sedangkan Zaira tidak.
Aku dan Zaira sangatlah dekat, kedekatan kami melalui mimpi-mimpi, melalui ikatan batin dan naluri.
Ayah dan Bunda adalah dua makhluk luar biasa tangguh, mereka jarang dirumah. Bersibuk dengan kegiatan sosial mereka di lokasi-lokasi bencana. Mereka adalah Relawan, manusia hebat menurutku. Karena dengan ikhlas membantu saudara-saudara yang sedang mendapat cobaan.

Kami ikhlas, bahkan tak pernah merengek meminta mereka pulang atau menangis rindu.
Bukan berarti kami sama sekali tidak pernah rindu. Orang tua kami menitipkan kami pada lingkungan sekitar, tinggal dirumah mimpi bersama khayalan tingkat tinggi kami.
Aku dan Rara, begitu panggilan akrab untuk Zaira, selalu diajarkan bahwa ketika kita memiliki iman, ketika kita percaya Allah menghuni hati kita menjaga dengan keEsaanNya maka saat itu pula kita berada bersama orang orang mukmin.
“Kak Vee, Rara, kalaupun Ayah dan Bunda jarang di rumah, kalian jangan sedih, jangan merasa kesepian dan tidak di perhatikan …”
“…… kalian percaya, Allah itu selalu menjaga hati kita, hati bunda, hati ayah, hati kak Vee juga hati Rara jadi meskipun raga kita jauh hati dan jiwa kita selalu dalam dekapan Allah sayang, mengadulah kepada Allah jika kalian rindu”. Ya, untaian kalimat indah Bunda yang selalu Bunda ucapkan sampai kami hafal betul sampai intonasinya. Ayah dan Bunda mempercayaiku menjaga Zaira. Adalah amanah yang luar biasa. Meskipun tepatnya kami saling menjaga.
“Kak, Rara ingin berselingkuh seperti kakak ! Suara lembut dalam pengkuanku seolah  merobek gendang telingaku.
Aku tak percaya !
“Rara, kamu…kamu bilang apa sayang ? heran, tetapi tetap ku jaga nada bicaraku.
“Kak, Rara ingin sekali mencicipi perselingkuhan seperti kakak, aku ingin mencoba kak !” Ah, entahlah dari mana Malaikat kecilku berfikir seperti itu. Apakah dia kagum pada kisah-kisah perselingkuhanku yang selalu aku ceritakan. “Ra, kenapa kamu ingin seperti itu, padahal setahu kakak kamu tak suka”.
Sembari ku mengusap lembut bahunya,
“Kak, Rara ingin mencoba hal-hal yang baru, bukankah kakak yang mengajarkan utu ?” timpalnya.
“Iya sayang, kamu boleh lakukan apapun hal yang kamu mau, asalkan hatimu yakin”
“Iya  kak. Jadiii, Rara bolehkan berselingkuh ?” air wajahnya tampak begiu riang
“Iya sayang”
Ku daratkan ciuman sayangku dikepalanya yang berlapis kain keindahan seorang muslim.
“terimakasih kak Vee..”lenguhnya
“ya sayang, Oh ya, memangnya Rara ingin berselingkuh dengan apa ?
“Banyak kak, meskipun Rara buta dan terbatars hal yang dapat Rara lakukan, Rara akan selalu mencoba” semakin menunjukan semangat.
“Iya sayang, kamu harus tetap bersyukur dan semangat” Aku benar-benar terharu setiap kali Rara membicarakan kebutaannya, dengan penuh semangat. Rara memang memiliki kekurangan, sejak dia lahir. Bahkan Allah belum memberinya kesempatan seujung kukupun untuk melihat dunia ini.
Tapi, bagiku dia sama sekali tidak buta. Rara melihat dengan mata hatinya. Ah, entah seputih dan sebersih apa jiwanya.
Indah-Indah sekali perangi adikku itu.
Dan dari sinilah aku kagum padanya. Belum sekali pun Rara mengeluh ingin dapat melihat keindahan dunia yang selalu ia tanyakan, seperti apa Alam dan lingkungan yang selama ini menjadi guru kami tempat Ayah dan Budan menitipkan kami. Tak habis fikir bahwa seusia Rara, 11 tahun. Memiki keikhlasan yang tinggi. Namun, yang membuatku benar-benar merasa sakit adalah ketika Rara memiliki mimpi kecil yang pernah dia katakan.
“Kak, jika nanti suatu saat Rara bisa melihat yang pertama iginRara lihat adalah wajah kakak, pasti cantik sekali seperti peri di dongeng-dongeng yang sering  kakak bacakan”.
“Tapi jika memang inilah takdir Rara selamanya, Rara ikhlas. Rara dapat melihatpun sama saja. Rara tidak bisa melihat wujud Allah secara nyata. Iya kan mak ?
Rara percaya apa yang kakak bilang bahwa Allah seperti hati kita masing-masing, tidak dapat kita lihat tetapi dapat kita rasakan”. Ya Allah, Malaikat apa yang kau kirimkan ini, aku benar-benar merasa beruntung diberi kesempatan untuk menjadi seorang kakak untuk Rara.

Pembicaraan seolah tak akan pernah berhenti, sepertinya malam ini mimpi kami tak juga berujung. “Kak, selama ini Rara selalu berteman biola kecil, memainkannya kapanpun Rara mau”.
‘Rara ingin lebih banyak mendengar cerita kakak, tentang apapun itu, cerita kakak selalu membawa Rara masuk kedalamnya dan rara meras sangat bahagia, Rara juga ingin mendengar kakak membaca Al Qur’an didekat Rara, sedikit-sedikit Rara hafalkan, Rara bisa menirukan kakak, iya kak Rara ingin berselingkuh dengan mereka”.
Ya Allah, apa yang harus aku perbuat?
Aku mulai mengingat perselingkuhanku. Ketika aku bosan bernyanyi, aku menyelingkuhi buku danmembaca, ketika aku bosan membaca, aku menulis. Ku selingkuhi perjalanan panjang ku dengan mimpi-mimpi hebat, menata strategi melangkah.
Kisah perselingkuhanku berjalan mulus. Meyakinkanku bahwa ini perselingkuhan halal. Sebetulnya ada kata lain yang lebih lazim untuk menamai dari pada kata “perselingkuhan” tapi, inilah aku, aku nyaman dan ini keren.
Aku tak pernah mau terikat oleh hukum apapun kecuali hukum Allah, yang ia tulis dalam Al Qur’an dan dilengkapi Al Hadist. Dan satu-satunya yang tidak akan dan tidak pernah saya selingkuhi hanyalah Allah, Dzat yang Suci.
Aku berselingkuh, hanya untuk mewarnai hari-hariku dengan perbedaan-perbedaan yang sejatinya indah. Bukan berarti tak ku miliki prinsip yang menyepadankan mimpi, keinginan dan iman. Setidaknya aku paham hal itu.

Benar, malam ini dinding-dinding rumah kami terhiasi dengan kemilau mimpi. Semua! semua hal tentang mimpi. Kami tinggal disalah satu komplek elit didaerah barat Yogyakarta. Rumah kami dibangun dengan mimpi-mimpi sepasang pengantin. Kelak rumah yang mereka bangun akan diramaikan oleh kehadiran anak-anaknya bersama mimpi-mimpi indah yang selalu datang dengan ramah.
Inilah wujud mimpi itu.
Aku, Zaira dan mimpi yang alami berbaur lembut menjadi satu.
“Melangkahlah bersama mimpi yang kamu genggam dengan penuh keyakinan sayang, ambil celah terkecil pada setiap kesempatan. Jangan pernah sia-siakan hal sekecil apapun itu’’.
Kalau yang ini kalimat pamungkas Ayah setiap kali aku dan Zaira selesai bercerita tentang mimpi-mimpi kami.
Ayah dan Bunda memang orang super. Keren.

“Rara, kamu pernah mendengar tentang orang bijak yang berkata, mimpiku adalah ketika masaku habis didunia, aku ingin persembahan yang terbaik untuk semua”.

“Pernah kak, bahkan orang yang berucap itu, selalu meyakinkan Rara pada setiap mimpi Rara”.
“Oh ya, siapa dia ? tanyaku pelan.

“Namanya Kak Vee… hehehe” Ah, Rara menghancurkan suasana, namun dengan kerenyahan nadanya suasana semakin kembal menghangat.

Semakin erat rasanya ikatan mimpi kami. Dan pada akhirnya kami terlelap dengan garis senyum hati kami menjemput mimpi bersama mimpi di rumah berdinding  mimpi.

Dilem, Desember 2010
sebuah cerpen yang pernah diikutlombakan tapi belum menang:) 
sumbergambar: www.googleimage.com

Minggu, 14 Agustus 2011

Kak, Zora ingin menjadi Pemimpin!


oleh Novita Wahyu Wulandari pada 24 November 2010
 
Bermula,Telah seminggu lebiH adik perempuanku Zora tekapar lemah dibilik RumahSakit.Dikotaku.
Terlihat begitu tidak berdayanya dia.Kontras dengan keseharian nya.Ceria. Riang . Aktif. Tak mau diam.

Umurnya baru enam tahun. Baru pula menginjakkan kaki mungIl itu dilantai formal sekolah Dasar Islam Ternama dan Berkualitas. Dia memang Cerdas.

Aku masiH ingat betul hari pertama ia masuk sekolah, sejak subuh dia sudah bangun . Seperti Biasa shalat berjama'ah Ayah, Bunda, Aku, Zora dan Lanang adik bungsuku.

Betapa air wajah menyemburat semangat yang luar biasa. Sesekali bercermin mengenakan seragam. Berdumal sendiri berlatiH memperkenal kan diri. Aaaah, lucu sekali adikku itu.
Tawaku meledak ketika ia nampak kecewa meliHat EksPresi wajahnya yang sulit diatUr.

Cerita hari ketiGAnya masuk sekolah :
"Kak,tadi Zora terpilih jadi Kandidat ketua kelas..."tutur zora dengan nafas panjang
"wah keren tuh Dek,terus kepiliH nggak?" sahutku

wajah mungil nan lugu itu memang nampak kecewa, matanya yang bening dan benarbenar suci itU terlihat sayu

"Zoraaa, kenapa sayang?" lembuT tuTurku dan ku belai kepalanya yang berlapis Kain Ke Islaman.
Zora masih saja diam. Sepi. Hanya sesekali terdengar entah musik apa dari Luar sana.

"kata Gurunya Perempuan tidak pantas kak menjadi ketua kelas" nada rendah penuh kecewa
aku menghela nafas panjang,kuatUr dudukku agar lebiH nyaman, kuhadapkan badan dan wajah Zora didepanku.

Menatapnya lamatlamat.Dan senyum tak terlupa ku gantung pada Bibir ku.

"Zoraaa, mungkin yang dimaksud Guru mu itU biar anak lelaki saja yang menjadi pemimpin dikelasmu.Supaya dia lebiH bisa menjaga temanteman mu..." belum selesai aku bicAra, suara kecil dan lembuT menyambAr

"Kak Farah kok malah membela Guru Zora sih?" dia sangat kecewa.Lari meninggalkan ku terPaku sendiri"Zora sayang,kakak belum selesai bicAra "hatiku menjerit.Sampai haBis tak terliHat lagI punggung adikku yang berlari maju.
Sampai tibA kamu berbaring berhari hari disini.Belum sempat kita bicara lagI tentang ini,setelah kejadian itU zora tak menyapaku,senyum nya selalu getir,tak memberiku kesempatan untUk mengHiburnya.Ya,mungkin hatinya sakit dan jengkel.

Zora,taukah kamu sayang.Hati kakak lebiH sakit kau diamkan.Seperti apapun usaha kakak mendEkatimu,membujuk dan memberimu yang menjadi kesenangan mu tetap saja kamu diam

Sayang,kakak juga tidak sepaham dg pendapat gurumu bAhwa perempuan tidak pantas menjadi pemimpin.
Mungkin saat itu kamu juga ingIn seperti kakak yang bisa menjadi KetUa Osis disekolah kakak.

Tapi kita berbeDa Zoraa...

Tetap saja.Tetap saja dan Tetap Saja Kakak bangga sama kamu.Maafkan Kakak,

Setelah Seminggu ini kamu samasekali diam.Hanya nafas dan terkadang airmatamu yang meleleh yang seolah memberikan petUnjuk bahwa kamu bernyawa.


.Kakak merindukan mu,kakak merindu saat saat kamu menyelinap masuk kamar kakak dan tertidur diranjang kakak, terkadang usil memberantak,menyembunyikan Buku Pelajaran kakak dan Tawa kecil kegElian mu meliHat kebingungan kakak mencri buku. Zora, bangun sayang .Izinkan kakak melanjuTkan keterangan tentang sepants apa perempuan menjadi pemimpin,dengarkan kakak mengambil tauladan muslimah yang pasti akan membuatmu semakin yakin dan tertarik.Betapa istimewanya kita perempuan.

Ayo Sayang,buka matamu...
Kami merindukan mu..."

katakan lagI sayang "Kak, Zora ingIn menjadi pemimpin" katakan laGi Kakak ingIn mendEngar kembAli:)



gambar from : Googleimage.com

Sabtu, 13 Agustus 2011

Cinta Kitakah Ini?

Assalamu'alaikum Warrohmatullahi Wabarakhatuh...

Terkadang Kita dipaksa menjadi Raksasa penuh ego saat kita dirundung cinta.Kita kehilangan rasa yg sejatinya murni dalam kemurnian.Kenapa Mereka rela menyakiti orang Lain. .Hanya untuk menuai asa cintanya.Kenapa mereka Berani terlilit api Neraka hanya untuk mencicip nikmat "yang dikata cinta"padahal tepatnya nafsu belaka.
Dan disinikah cinta?Seperti inikah buruk cinta?Cinta kitakah ini?


Gadis Berkerudung itu,Dalam langkah malu-malu mendekat pada bangku memanjang beranda Mushala.Dalam Hatinya penuh ragu"ya Rabb,jika langkahku kini Salah mohon bimbing aku,jika langkah kaki ini Di Benar DiMata Mu jangan tinggalkan aku". . .Tetap berjalan.Meski terlihat seperti Gadis Pendiam yg lugu.Tertunduk .Seperti gadis tak ber'Asa.Tapi itu bukan dia.Dia adalah gadis remaja tangGuh dalam ketangGuhan Keyakinannya kepada Tuhannya.

"Assalamu'alaikum. . ."hening menyebak serentang menjawab lembuT salamnya.Sungguh Gadis yg lembut Imannya.

"Wa'alaikumsalam warohmatullahi Wabarokhatuh. . ."
gagah menggegab gembita.Menantang tegap Langit.Suara adam mendo'a pada sang Hawa.

Disini Dimulai Cinta Kasih Remaja SMA.

Berduduk Menunduk.Gadis berkerudung Itu.

Mereka Berdua.
"ada A..Pa . .Kamu Memanggil ku.?"

sungguh bahasa yang kaku.Tanpa nafas mengaliri nadi.Membosan penat diri.

Hingga sekejab mendiam,menata Jiwa tatanan yang rapi mengantar nyali berucap. . . .

"Bening. . .Aku mencintaimu"

sungguh rumpuTpun mengering mencemburui kata itu.Burung menelepak mematahkan sayap.Awan memencar bertaburan.Kian lama Dunia kian Menciut malu.

Tanpa tatapan mata.Tanpa Berdekat.Menjauh dalam jarak duduk pada Kursi memanjang itu.Bagai Adam Kaki Sebelah kanan dan Sang Hawa Kaki menumpu sebelah kiri.Maka berjauhan mereka.

"jika Kamu mencintai Kesederhanaan,berarti Kamu mencintaiku?"

Kembali merobohkan puing Gerbang Gedung Menjulang Itu.Opera Hati Sang Adam.Lembut Suara.Lembut tata busananya.Lembut tingkah nya.Sang Bening sebagai putri Hawa.

"Bening,jika Kamu Mencintai Kesetiaan ,berarti Kamu Juga Mencintai Ku"!

Firdaus sang Putra Adam Tak kan mengelakkan langkah Hatinya.Kata indah menyambung Putih Jawabanya.

"Fir. .da. .us. . ."
Langkah Kata yang Terbata dari liuk Bibir sang Bening

"Jika kamu Mencintai Keikhlasan Berarti Kamu Mencintaiku"

hatinya kian membiru.Larut dalam Takut Kuasanya.Cinta Agung Fitrah para manusia.


"Dimana ku letakkan Rasaku.Jika Hatimu Tak mau Mengikhlas menerima."sambut Firdaus penuh rasa.

Tetap dalam Jauh berSamping duduk Mereka.Tanpa Tatapan.
Tanpa sentuhan.

"jika Kamu Mencintai Ayat KeAGUNGAN NYA,berarti Kamu Mencintaiku"
masih Berlanjut buai Menggurindam.Bak lantUnan sajak berbalas.


Dalam Hati sang Firdaus"jika Benar Perkataanku maka Benarkanlah dimata Makhluk elok ciptaan Mu.Jika salah diMata Mu Maka ampunkan Hamba Mu?"


serasa rumit Cinta itu menyerbu padam bara Ego.nya.Begtu Banyak penanda cinta bagi Mereka.

Dari masing - masing Hati itu kini merasa Dosa Besar Bukan Karena Zina.Melainkan Menduakan Agung Cinta Nya.

Nafas terasa terkutuk membeku.bulir bulir bening menetik dalam bulat mata kedua Putra Adam Hawa.

Hingga. . . .

"Jika Kamu Mencintaiku Karena Allah,maka Aku Mencintaimu. . . ."

berucap Lantang pada Kedua remaja itU.Serentak tanpa direncana .berPAdu tanpa Menghitung satu.Dua .Tiga dan mulai.

Allahu Akbar. . . .

SungGuh memanja wajah mereka.Memerah menetik air mata.Mensyukuri nikmat Cinta Kuasa Nya. . .

Dan mereka Bertatap.Terheran Tak Percaya.Mengheran Pada satU kta yang tanpa mereka kira adalah sama.Tak mau mereka mendua Cinta suci Miliknya.Dan itulah Cinta Karena Kuasa Nya. . . .


Dan Bening menatap Firdaus tanpa nafsu durjana.Mereka Mengagungkan Nama Nya.Mereka Mengucap Cinta Karena Nya.Tanpa ragu dengan Dosa yang akan mereka terima.Karena Allah ada dalam Hati Mereka.Menjaga jarak antar dua insan yang dimadu Cinta.Murni Suci. . . .

"jagalah Hatikami ya Rabb,berkahilah Cinta kami.KuasaMu.AdilMu.dan CintaMU.."lambat berucap tapi pasti dalam hati sang Bening.

Dan Firdaus merasakan Do'a itu.Mengusap lembuT wajahnya.Amin.Amin.Amin.Ya
Allah. . . .


Dan kini Cinta Sang Bening sang Putri Siti Hawa dan Firdaus Putra Sang Adam dalam lakon mereka.menyatu dalam Ikrar Mukmin.Iman mereka.Mengagung Nama Nya.Allah Azza Wajalla. . .

Semoga Kita dapatkan Cinta yg mengikrar atas Kuasa Nya. . . .

Amin.

Wassalamu'alakm warahmatullahi wabbarakhatuh. . .


Ku tulis ini murni tanpa ada gencatan Pikir yang memaksa.Di kurSi istimewa beranda Kosan.Bersama Tombol" Hp (blicky.Dot)teman setia. . . . .
Terimakasih kepada Tuhan yang maha Esa.

-novitawahyuwulandari-

Rumah Berdinding Mimpi

Namaku Vee, seorang remaja beruntung karena terlahir dengan segala bentuk rasa syukur. Lebih beruntung lagi aku memiliki Zaira, adikku satu-satunya yang tumbuh bak berlian seribu karat.
Kami sama !
Sama-sama pengkayal ulung. Pemimpi hebat. Perbedaannya hanya aku suka berselingkuh sedangkan Zaira tidak.
Aku dan Zaira sangatlah dekat, kedekatan kami melalui mimpi-mimpi, melalui ikatan batin dan naluri.
Ayah dan Bunda adalah dua makhluk luar biasa tangguh, mereka jarang dirumah. Bersibuk dengan kegiatan sosial mereka di lokasi-lokasi bencana. Mereka adalah Relawan, manusia hebat menurutku. Karena dengan ikhlas membantu saudara-saudara yang sedang mendapat cobaan.
Kami ikhlas, bahkan tak pernah merengek meminta mereka pulang atau menangis rindu.
Bukan berarti kami sama sekali tidak pernah rindu. Orang tua kami menitipkan kami pada lingkungan sekitar, tinggal dirumah mimpi bersama khayalan tingkat tinggi kami.
Aku dan Rara, begitu panggilan akrab untuk Zaira, selalu diajarkan bahwa ketika kita memiliki iman, ketika kita percaya Allah menghuni hati kita menjaga dengan keEsaanNya maka saat itu pula kita berada bersama orang orang mukmin.
“Kak Vee, Rara, kalaupun Ayah dan Bunda jarang di rumah, kalian jangan sedih, jangan merasa kesepian dan tidak di perhatikan …”
“…… kalian percaya, Allah itu selalu menjaga hati kita, hati bunda, hati ayah, hati kak Vee juga hati Rara jadi meskipun raga kita jauh hati dan jiwa kita selalu dalam dekapan Allah sayang, mengadulah kepada Allah jika kalian rindu”. Ya, untaian kalimat indah Bunda yang selalu Bunda ucapkan sampai kami hafal betul sampai intonasinya. Ayah dan Bunda mempercayaiku menjaga Zaira. Adalah amanah yang luar biasa. Meskipun tepatnya kami saling menjaga.
“Kak, Rara ingin berselingkuh seperti kakak ! Suara lembut dalam pengkuanku seolah merobek gendang telingaku.
Aku tak percaya !
“Rara, kamu…kamu bilang apa sayang ? heran, tetapi tetap ku jaga nada bicaraku.
“Kak, Rara ingin sekali mencicipi perselingkuhan seperti kakak, aku ingin mencoba kak !” Ah, entahlah dari mana Malaikat kecilku berfikir seperti itu. Apakah dia kagum pada kisah-kisah perselingkuhanku yang selalu aku ceritakan. “Ra, kenapa kamu ingin seperti itu, padahal setahu kakak kamu tak suka”.
Sembari ku mengusap lembut bahunya,
“Kak, Rara ingin mencoba hal-hal yang baru, bukankah kakak yang mengajarkan utu ?” timpalnya.
“Iya sayang, kamu boleh lakukan apapun hal yang kamu mau, asalkan hatimu yakin”
“Iya kak. Jadiii, Rara bolehkan berselingkuh ?” air wajahnya tampak begiu riang
“Iya sayang”
Ku daratkan ciuman sayangku dikepalanya yang berlapis kain keindahan seorang muslim.
“terimakasih kak Vee..”lenguhnya
“ya sayang, Oh ya, memangnya Rara ingin berselingkuh dengan apa ?
“Banyak kak, meskipun Rara buta dan terbatars hal yang dapat Rara lakukan, Rara akan selalu mencoba” semakin menunjukan semangat.
“Iya sayang, kamu harus tetap bersyukur dan semangat” Aku benar-benar terharu setiap kali Rara membicarakan kebutaannya, dengan penuh semangat. Rara memang memiliki kekurangan, sejak dia lahir. Bahkan Allah belum memberinya kesempatan seujung kukupun untuk melihat dunia ini.
Tapi, bagiku dia sama sekali tidak buta. Rara melihat dengan mata hatinya. Ah, entah seputih dan sebersih apa jiwanya.
Indah-Indah sekali perangi adikku itu.
Dan dari sinilah aku kagum padanya. Belum sekali pun Rara mengeluh ingin dapat melihat keindahan dunia yang selalu ia tanyakan, seperti apa Alam dan lingkungan yang selama ini menjadi guru kami tempat Ayah dan Budan menitipkan kami. Tak habis fikir bahwa seusia Rara, 11 tahun. Memiki keikhlasan yang tinggi. Namun, yang membuatku benar-benar merasa sakit adalah ketika Rara memiliki mimpi kecil yang pernah dia katakan.
“Kak, jika nanti suatu saat Rara bisa melihat yang pertama iginRara lihat adalah wajah kakak, pasti cantik sekali seperti peri di dongeng-dongeng yang sering  kakak bacakan”.
“Tapi jika memang inilah takdir Rara selamanya, Rara ikhlas. Rara dapat melihatpun sama saja. Rara tidak bisa melihat wujud Allah secara nyata. Iya kan kak ?
Rara percaya apa yang kakak bilang bahwa Allah seperti hati kita masing-masing, tidak dapat kita lihat tetapi dapat kita rasakan”. Ya Allah, Malaikat apa yang kau kirimkan ini, aku benar-benar merasa beruntung diberi kesempatan untuk menjadi seorang kakak untuk Rara.

Pembicaraan seolah tak akan pernah berhenti, sepertinya malam ini mimpi kami tak juga berujung. “Kak, selama ini Rara selalu berteman biola kecil, memainkannya kapanpun Rara mau”.
‘Rara ingin lebih banyak mendengar cerita kakak, tentang apapun itu, cerita kakak selalu membawa Rara masuk kedalamnya dan rara meras sangat bahagia, Rara juga ingin mendengar kakak membaca Al Qur’an didekat Rara, sedikit-sedikit Rara hafalkan, Rara bisa menirukan kakak, iya kak Rara ingin berselingkuh dengan mereka”.
Ya Allah, apa yang harus aku perbuat?
Aku mulai mengingat perselingkuhanku. Ketika aku bosan bernyanyi, aku menyelingkuhi buku danmembaca, ketika aku bosan membaca, aku menulis. Ku selingkuhi perjalanan panjang ku dengan mimpi-mimpi hebat, menata strategi melangkah.
Kisah perselingkuhanku berjalan mulus. Meyakinkanku bahwa ini perselingkuhan halal. Sebetulnya ada kata lain yang lebih lazim untuk menamai dari pada kata “perselingkuhan” tapi, inilah aku, aku nyaman dan ini keren.
Aku tak pernah mau terikat oleh hukum apapun kecuali hukum Allah, yang ia tulis dalam Al Qur’an dan dilengkapi Al Hadist. Dan satu-satunya yang tidak akan dan tidak pernah saya selingkuhi hanyalah Allah, Dzat yang Suci.
Aku berselingkuh, hanya untuk mewarnai hari-hariku dengan perbedaan-perbedaan yang sejatinya indah. Bukan berarti tak ku miliki prinsip yang menyepadankan mimpi, keinginan dan iman. Setidaknya aku paham hal itu.

Benar, malam ini dinding-dinding rumah kami terhiasi dengan kemilau mimpi. Semua! semua hal tentang mimpi. Kami tinggal disalah satu komplek elit didaerah barat Yogyakarta. Rumah kami dibangun dengan mimpi-mimpi sepasang pengantin. Kelak rumah yang mereka bangun akan diramaikan oleh kehadiran anak-anaknya bersama mimpi-mimpi indah yang selalu datang dengan ramah.
Inilah wujud mimpi itu.
Aku, Zaira dan mimpi yang alami berbaur lembut menjadi satu.
“Melangkahlah bersama mimpi yang kamu genggam dengan penuh keyakinan sayang, ambil celah terkecil pada setiap kesempatan. Jangan pernah sia-siakan hal sekecil apapun itu’’.
Kalau yang ini kalimat pamungkas Ayah setiap kali aku dan Zaira selesai bercerita tentang mimpi-mimpi kami.
Ayah dan Bunda memang orang super. Keren.

“Rara, kamu pernah mendengar tentang orang bijak yang berkata, mimpiku adalah ketika masaku habis didunia, aku ingin persembahan yang terbaik untuk semua”.

“Pernah kak, bahkan orang yang berucap itu, selalu meyakinkan Rara pada setiap mimpi Rara”.
“Oh ya, siapa dia ? tanyaku pelan.

“Namanya Kak Vee… hehehe” Ah, Rara menghancurkan suasana, namun dengan kerenyahan nadanya suasana semakin kembal menghangat.

Semakin erat rasanya ikatan mimpi kami. Dan pada akhirnya kami terlelap dengan garis senyum hati kami menjemput mimpi bersama mimpi di rumah berdinding  mimpi.

Dilem, Desember 2010

(Puisi)

Perempuan Kereta Berkalung Senja


Lihat aku, aku perempuan Kereta
Saksikan aku Menarikan keretaku
Mengantar kemana saja yang mereka minta
Yaa, usiaku tak lagi pagi
Telah kulewati siang
Dan segera kan ku jemput senja

Lihat aku, aku perempuan tua
Saksikan aku yang setiap gerakku tergantung beratus nyawa
Yang siap kapan saja kujerumuskan pada ajal
Aku bukan malaikat