Bismillah Pictures, Images and Photos
Tampilkan postingan dengan label Puisiku:). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisiku:). Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 September 2011

Perempuan Kereta Berkalung Senja


Lihat aku, aku perempuan Kereta
Saksikan aku Menarikan keretaku
Mengantar kemana saja yang mereka minta
Yaa, usiaku tak lagi pagi
Telah kulewati siang
Dan segera kan ku jemput senja

Lihat aku, aku perempuan tua
Saksikan aku yang setiap gerakku tergantung beratus nyawa
Yang siap kapan saja kujerumuskan pada ajal
Aku bukan malaikat
Bukan …
Aku bukan Izrail
Bukan juga Tuhan yang Ber Hak Atas Nyawa

Tapi ketika lamunku terkecoh, kaki keretaku terkilir
Yaa, Beratus nyawa itu melayang bersama dosaku
Inipun Kehendak Nya?

Aku hanya seorang perempuan kereta
Aku Masinis,
Yaa, setidaknya itu sebutan yang tepat untukku
Lihat aku, yang disetiap liukkan keretaku
Nafasku hampir habis

Sabtu, 13 Agustus 2011

Sebuah Puisi Kelakar Cinta Iblis

Pernah aku berfikir
Ketika Tuhan memberiku dua pilihan, selalu saja hanya dua.

Iblis jatUh cinta padaku, pada kebingunganku
aku ragu,
Imanku terkoyak
aku takut,
salah memiliH

dua koMponen yang mendasar. Keduanya penting. Hidup ataukah mati
sungguh piliHan yang sulit saat itu

iblis kembali datang menyatakan cintanya padaku
dengan menyembunyikan seram tampak aslinya

merubAh semua.Ajaib!
Menjadi tampan nan BerSinar. MembAwa mawar ungu kesukaanku

berbisik.BerPuisi seperti kegemaranku.

Tuhan hanya memberiku waktU 3 malam,
akupun tak mau menawar,aku pasRah
Jika aku memiliH hIdup,apakah ini jalan yang Ia RidhoiJika aku memiliH mati,apakah juga inilah kebenaran?

Ini tentang apa? Kebenaran? Keimanankah?
Iblis masiH berPuisi mengGodaku dEngan Cintanya,sampai entahkapan ending ceritanya.Sampai kini,saAt ini aku masiH belum mendapatkan jawaBan itU
Akan KucAri,
akan ku temukan dan kupiliH. Bukan berarti tanpa kau!

Jumat, 12 Agustus 2011

Sajak Semut Merah : 05 Desember 2010


Batang telah merapuh merasakan kering dedaunan ini
Pijakan kakiku seolah merontokkan tulang reranting
Setiap Teriak Perintahku, pada Pasukankupun Seolah melayukan akarakar
sesampai tak kuasa lagI menjalar

PeRsatu dari baGian pohon ini mati, mengantar pula pada ajal keseluruhan jiwa pepohonan

ini berbeda. Tak seperti biasa yang kulihat meraksasa berkepala hIjau meneDuhkan sesampai gelap untuk kemungilanku

Bukan karena aku!
Tak mungkin. Aku hanya titik merah yang merayap tanpa melukai nya. Jangan salahkan aku!

aku berkisah, bukan puisi belaka

Jemariku tak segemulai yang dulu,
kegagalan metamorfosa yang memburuk
membangun stimulus baru
tetapi kesalahan fatal pada enzim tindak langkahku

Aku ini siapa?
Bukan, Bukan binatang jalang yang oleh chairil anwar berlaku pada aku

Bukan juga Nabi, yang oleh sekelompok orang bodoh mengaku akuinya

ini aku!
Aku, seorang pemuda tampan dengan hidung mancung menawan menatapmu,
melihat dari sisi ke sisi, antar sudut. Dan ku kalikan antara sisi dan sisi hingga sempurna berbentuk seorang gadis. Itu kamu!

Ini aku, Membawakan warnawarni polkadot cinta tiada berujung


dimana titik temu? Seolah kita lupa bahwa ini garis sejajar
abstrak...

Renrantingan berjatuhan jugalah,
ketika asam asam menghujan memberi sengir rasa cinta
besipun tak kuasa menjaga kilaunya
semua berkarat, terinfeksi keasaman hujan yang dikata reaksi kimia


puisi cinta.
28 januari 2011

Bumi kepada Hujan



Sajak ke 2, setelah normalnya saya!
Enjoy it!

Seperti biasa, Bacalah tanpa mengucap, nikmati tanpa mencela dan tinggalkan jika kamu tak suka!

###


Bumi kepada Hujan

Dear Hujan,

saya bumi, terimakasih telah membantu saya menghijaukan sketsa-sketsa keindahan yang saya minta

Tapi, meraung disana!
Menangis disini.
Seolah poriku tak lagi miliki fungsi.

Mereka meneriakimu, mencela memaki

Saya Bumi, Berfikir keras dalam bodohku?
Tanpa memihak mengadilimu, menelanjangimu dalam hina beranak pinak
sampai, sebejat itukah kamu?
Tidak, Tidak. Kamu sangat baik.
Salahkan saya jika keadilan membuatmu mati tertelan.

Saya bumi, Ingin sekali menyerukan "Hujan adalah teman, satu aliran nafas dari tangan Pemegang Kesempurnaan"
siapa saya. Saya hanya bumi. Menerima pasRah pemogokan budak makhluk-makluk berhati.


Taukah kamu hujan, tanpamu saya akan kering kerontang, tak mungkin setampan sekarang.
Taukah kamu hujan,
kamu tak pernah datang berlebihan

saya bumi, dalam pagutan pelukan makhluk berhati yang sama sekali tak mengerti apa itu 'FUNGSI'

Hujan, datanglah mengantri pada matahari. Tetap pada hak jalur yang kamu miliki. Janan, Jangan kamu rebut hak matahari. Seperti makhluk berhati itu berebut tak kenal maut.

Saya bumi, memintamu hujan temani saya, temani saya meski kamu tak tampakkan diri.

KTA, 12/02/2011